Kenapa Pria Bisa Terasa "Mau Mati" Saat Demam?
Kenapa Pria Bisa Terasa “Mau Mati” Saat Demam? Ini Penjelasan Lengkapnya
Tapi, apakah ini hanya soal drama? Atau ada alasan ilmiah mengapa pria tampak lebih “tersiksa” saat sakit? Mari kita telusuri lebih dalam ternyata ada penjelasan ilmiah yang cukup mengejutkan.
1. Apa Itu “Man Flu”?
Istilah man flu mengacu pada persepsi bahwa pria cenderung bereaksi secara berlebihan terhadap gejala flu atau demam ringan. Mereka dianggap lebih manja, lebih banyak mengeluh, dan merasa lebih sakit dibandingkan wanita dalam kondisi serupa. Istilah ini sering digunakan secara bercanda, namun juga menyiratkan stereotip gender yang cukup kuat.
Namun, apakah ini hanya mitos? Atau ada dasar ilmiahnya?
2. Perbedaan Sistem Imun Pria dan Wanita
Salah satu penjelasan paling masuk akal datang dari dunia medis. Ternyata, tubuh pria dan wanita memang merespons penyakit dengan cara yang berbeda.
a. Peran Hormon Seksual
Hormon memiliki pengaruh besar terhadap sistem kekebalan tubuh. Estrogen, hormon utama pada wanita, diketahui memiliki efek imunoprotektif. Artinya, estrogen membantu meningkatkan respons imun terhadap infeksi. Sebaliknya, testosteron hormon dominan pada pria justru memiliki efek imunosupresif, yaitu menekan sistem kekebalan tubuh.
Penelitian menunjukkan bahwa pria dengan kadar testosteron tinggi cenderung memiliki respons imun yang lebih lemah terhadap vaksin dan infeksi virus. Ini bisa menjelaskan mengapa pria lebih rentan mengalami gejala yang lebih parah saat terkena flu atau demam.Mereka cenderung mengalami demam lebih tinggi, kelelahan lebih parah, dan waktu pemulihan yang lebih lama.
b. Faktor Genetik
Wanita memiliki dua kromosom X, sementara pria hanya satu. Kromosom X mengandung banyak gen yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Dengan dua salinan, wanita memiliki cadangan genetik yang lebih kuat untuk melawan infeksi. Ini memberi mereka keunggulan biologis dalam menghadapi penyakit.
c. Studi Ilmiah yang Mendukung
Sebuah studi dari Universitas Harvard menemukan bahwa sel imun wanita lebih aktif dalam melawan virus influenza dibandingkan pria. Penelitian lain dari Kanada bahkan menyimpulkan bahwa pria memang mengalami gejala flu yang lebih berat dan lebih lama dibandingkan wanita.
3. Perspektif Psikologis: Cara Pria Menghadapi Sakit
Selain faktor biologis, ada juga aspek psikologis yang memengaruhi bagaimana pria merespons rasa sakit.
a. Maskulinitas dan Penekanan Emosi
Sejak kecil, banyak pria diajarkan untuk tidak menangis, tidak mengeluh, dan selalu tampil kuat. Budaya ini membentuk pola pikir bahwa menunjukkan kelemahan adalah hal yang memalukan. Namun, ketika tubuh benar-benar lemah karena sakit, semua emosi yang selama ini ditekan bisa muncul secara berlebihan.Semua emosi yang tertahan bisa “meledak” sekaligus.
b. Kurangnya Pengalaman Mengelola Ketidaknyamanan
Karena terbiasa menahan rasa sakit dan tidak mengekspresikannya, banyak pria tidak memiliki keterampilan emosional untuk menghadapi kondisi tubuh yang lemah. Saat demam menyerang, mereka bisa merasa tidak berdaya dan tidak tahu bagaimana merespons selain dengan mengeluh atau mencari perhatian. Entah itu kepada pasangan ataupun ke keluarga.
c. Efek Psikosomatis
Pikiran memiliki kekuatan besar dalam memengaruhi persepsi tubuh. Jika seorang pria percaya bahwa demam adalah kondisi yang sangat menyiksa, maka otaknya akan memperbesar rasa sakit tersebut. Ini bukan berarti mereka berpura-pura, tetapi memang persepsi mereka terhadap rasa sakit bisa lebih intens.
4. Perspektif Sosial dan Budaya
Fenomena man flu juga tidak bisa dilepaskan dari konstruksi sosial tentang peran gender.
a. Perempuan Lebih Terbiasa Menghadapi Sakit
Dalam banyak budaya, perempuan sering kali menjadi pengasuh utama dalam keluarga. Mereka terbiasa merawat anak, pasangan, dan orang tua. Pengalaman ini membuat mereka lebih terbiasa menghadapi rasa sakit dan tetap menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
b. Pria Jarang Menjadi “Pasien”
Sebaliknya, pria jarang berada dalam posisi sebagai orang yang dirawat. Ketika mereka jatuh sakit, pengalaman itu terasa asing dan tidak nyaman. Mereka tidak tahu bagaimana meminta bantuan atau menerima perawatan tanpa merasa kehilangan harga diri.
c. Ekspektasi Sosial yang Bertolak Belakang
Masyarakat sering kali menganggap pria yang mengeluh saat sakit sebagai “tidak jantan”. Namun, ketika mereka benar-benar merasa tidak enak badan, mereka justru merasa bebas untuk mengekspresikan rasa sakit secara berlebihan karena itu satu-satunya momen mereka “diizinkan” untuk lemah.
5. Data dan Fakta: Apa Kata Penelitian?
Beberapa data menarik mendukung fenomena ini:
- Studi dari Memorial University of Newfoundland menyatakan bahwa pria memang mengalami gejala flu yang lebih berat dibandingkan wanita. Peneliti menyimpulkan bahwa man flu bukan sekadar mitos, tetapi bisa jadi refleksi dari perbedaan biologis nyata.
- Data dari WHO dan CDC menunjukkan bahwa pria memiliki tingkat rawat inap dan kematian yang lebih tinggi akibat infeksi pernapasan seperti flu dan COVID-19. Ini memperkuat dugaan bahwa sistem imun pria memang lebih rentan.
- Penelitian dari Stanford University menemukan bahwa pria cenderung memiliki respons imun yang lebih lambat terhadap vaksin influenza, yang berarti tubuh mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk membentuk perlindungan.
6. Budaya Populer dan Stereotip
Fenomena ini telah menjadi bagian dari budaya populer dan sering kali dijadikan bahan candaan.
a. Meme dan Humor
Media sosial dipenuhi meme tentang pria yang “sekarat” karena flu. Banyak perempuan membagikan kisah lucu tentang pasangan mereka yang menjadi sangat manja saat sakit. Meskipun menghibur, candaan ini bisa memperkuat stereotip yang tidak selalu akurat.
b. Representasi di Media
Film dan serial TV sering menggambarkan pria yang berubah menjadi “bayi besar” saat sakit. Karakter seperti ini menjadi bahan tertawaan, tetapi juga mencerminkan realitas yang banyak orang alami
c. Dampak Negatif
Stereotip ini bisa berdampak negatif. Pria mungkin merasa malu untuk mengakui bahwa mereka sakit atau menunda mencari bantuan medis karena takut dianggap lemah. Ini bisa berbahaya, terutama jika gejala yang mereka alami sebenarnya serius.
7. Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Fenomena ini bukan untuk ditertawakan, tetapi dipahami. Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan:
a. Validasi Rasa Sakit
Setiap orang berhak merasakan dan mengekspresikan rasa sakit, tanpa memandang gender. Tidak ada gunanya membandingkan siapa yang lebih kuat atau lebih lemah.Apalagi harus membandingkan dengan pasangan.
b. Edukasi Emosional untuk Pria
Penting untuk mengajarkan pria sejak dini bahwa mengekspresikan emosi dan meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Ini adalah bagian dari menjadi manusia yang normal,kita butuh sesuatu untuk meluapkan perasaan dan apa yang kita rasakan.
c. Dukungan dari Pasangan dan Keluarga
Alih-alih mengejek, berikan dukungan emosional dan fisik saat pria sakit. Ini bisa mempercepat pemulihan dan memperkuat hubungan batin maupun keluarga.
d. Perubahan Narasi Budaya
Media dan masyarakat perlu mengubah cara mereka menggambarkan pria yang sedang sakit. Alih-alih memperkuat stereotip, mari ciptakan narasi yang lebih empatik dan inklusif.
Kesimpulan
Fenomena pria yang merasa “mau mati” saat demam bukanlah sekadar drama. Ada alasan biologis, psikologis, dan sosial yang mendasarinya. Sistem imun pria memang cenderung lebih lemah, dan mereka juga menghadapi tekanan sosial yang membentuk cara mereka merespons rasa sakit.
Daripada menertawakan atau mengejek, lebih baik kita memahami dan mendukung satu sama lain saat sakit. Karena pada akhirnya, tubuh manusia baik pria maupun wanita memiliki batasnya masing-masing. Dan ketika tubuh itu lemah, yang paling dibutuhkan adalah empati, bukan penilaian.

Posting Komentar